CARANYA.CO – Setiap harinya tinggal dalam keadaan kehidupan serta rumah yang simpel dilewati wanita berumur 65 tahun, Kadariah Binti Kanta, ini dengan bahagia serta penuh semangat.

nenek naik haji seri melakukan sholat dhuha

Dalam kesehariannya, satu saat, terbesit kemauan Kadariah Binti Kanta untuk dapat menunaikan beribadah haji, walau suaminya tidak ada semenjak delapan tahun waktu lalu.

“Saya benar-benar ingin serta meyakini dapat pergi haji,” kata Kadariah, seseorang janda sebelum keberangkatannya ke tanah suci, Minggu (21/7/2019).

Dikisahkan, jika kesuksesan Kadariah melunasi ongkos haji sampai pada akhirnya masuk dalam rombongan Jemaah Calon Haji (JCH) 2019 semenjak mendaftarkan Tahun 2011, tidak terlepas dari perjuangan panjangnya yang sudah pernah jadi penjual ikan basah di pasar, terkadang ikan yang diasap diketahui dengan ikan salai sambil buka warung kecil kecilan dirumahnya.

Sadar jika kemauannya tidak gampang untuk direalisasikan tanpa ada kemauan kuat serta usaha keras, Kadariah mulai berpikir untuk menyisihkan beberapa pendapatannya jual air galon yang telah dibuat untuk ditabung.

Dia akui sudah pernah minta suaminya untuk jual ladang karet yang tidak sebegitu, waktu suaminya masih hidup, yang akan dipakai untuk penyembuhan suaminya yang menderita penyakit tumor.

“Sudah ke mana-mana kami bawa serta berobat, sampai ke Padang, Rengat, Pekanbaru tetapi tidak pulih , pada akhirnya tidak tertolong , taqdir Allah suami saya duluan dijemput Yang Maha Kuasa,” katanya.

Bermodal dari tersisa ongkos penyembuhan serta melunasi hutang suami yang tidak sebegitu Dia membulatkan tekad mendaftarkan haji di Kantor Kemenag di wilayah tempat tinggalnya.

Wanita yang memiliki dua anak ini, mulai menyisihkan beberapa uang jatah berbelanja atau uang lain hasil dari dagangannya.

Tiap hari, Kadariah menaruh uangnya di balik tikar kasur dikamarnya dengan nominal yang tidak tentu.

“Kadang 10 ribu, terkadang ya 20 ribu, terkadang 50 ribu, kan ongkos haji itu banyak tidak hanya mendaftarkan saja”, tuturnya.

“Tidak tentu, bergantung berapakah yang dapat disisihkan. Tetapi tiap hari harus ada yang disimpan untuk ditabungkan,” lanjut Kadariah.

“Rata rata jualan air galon dapat sampai 12 galon satu hari saya masak, saya jika banyak pesanan orang, bisa 100 ribu pada sebuah hari,” paparnya.

Kumpulkan serta menaruh uang di balik tikar, dibawah kasur untuk menggenapkan ongkos pergi haji dikerjakan Kadariah tanpa ada sepengetahuan suaminya sampai suaminya tanpa. Ditambah lagi, usaha menabung itu tidak kurangi ongkos pendidikan untuk ke-2 anaknya.

Dua anak mereka semua dapat sekolah serta tidak terusik dengan usaha ibunya menabung.

“Saat ini yang masih kuliah tinggal satu, di UPP Rohul di belakang Kapolres Rohil, serta satu yang besar telah menikah, itu juga cuma kerja buruh kasar, ada orang buat batako, ngecat rumah orang, atau membuat jalan setapak dikerjakannya”, kata Kadariah, memberikan pujian pada perjuangan anaknya.

Kadariah masuk dalam daftar Jemaah Calon Haji (JCH) kloter 18 BTH dari Kabupaten Rohul. Jadi janda yang masih menghidupi anak bungsunya yang masih kuliah, bukan masalah gampang buat dianya waktu mendaftarkan beribadah haji.

Kadariah menjelaskan, jauh sebelum berjualan air galon yang dibuat di tempat tinggalnya tiga tahun terakhir. Dia berjualan ikan basah di desanya.

“Kalau bisa untung alhamdulillah, jika tidak terjual ikan itu saya salain,” tuturnya.

Ibu dua anak ini bawa do’a spesial ditanah suci kelak.

“Saya ingin berdoa agar dipermudah rezki buat beberapa anak saya sampai kehidupan mereka dapat lebih baik, sebab jika dapat saya cuma ingin beribadah di tersisa umur, mudah-mudahan keinginan ini terjadi,” harapnya.

Waktu Dhuha ya Dhuha, tahajjud dapat juga, tetapi jika kita lemas tidak mungkin mampu melaksanakan ibadah optimal,” tambahnyta.

Hal itu sebagai kemauan dianya hingga belum dapat optimal melaksanakan ibadah, sebab berupaya menutupi keperluan seharian.

Anggota Polri Meninggal Dunia Usai Upacara HUT Bhayangkara

Berita duka hadir Polres Bandung, Aiptu Cecep yang memegang sebagai Bhabinkamtibmas Polsek Majalaya Polres Bandung, Jawa Barat dikatakan wafat oleh Urkes Polres Bandung dr Leny, Rabu ( 10/7/2019).

Kapolres Bandung AKBP Indra Hermawan, S.H, S.I.K, M.H waktu dihubungi membetulkan satu diantara personEl terbaik wafat di Masjid Al Fathu waktu Istirahat usai melakukan Sholat Dhuha serta menanti waktu Dzuhur usai melakukan Upacara Peringatan Hari Bhayangkara ke 73.

Kapolres Bandung AKBP Indra Hermawan, menjelaskan Almarhum Aiptu Cecep wafat waktu Istirahat usai melakukan Sholat Dhuha serta menanti waktu Dzuhur, usai ikuti serangkaian Upacara Hari Bhayangkara ke 73 tingkat Polres Bandung.

Pengamatan reporter Didi Mainaki di lapangan terlihat Waka Polres Bandung Kompol Mikra Hasibuan, S.H, S.I.K, M.H serta Personil Polres Bandung turut menolong menuntun Almarhum ke Ambulance Urkes Polres Bandung

Tahu info ada anggota Polres Bandung merintih rasa sakit, Urkes Polres Bandung langsung bergerak cepat memberi pertolongan ke arah Masjid Al Fathu Komplek Pemda Kabupaten Bandung, tetapi waktu dikerjakan penelusuran Almarhum telah dikatakan wafat di Masjid Al Fathu, Jenazah almarhum selanjutnya dibawa ke kamar jenazah RSUD Soreang, sebelum ke rumah duka di Kampung Bale Kambang Desa Sukamaju Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung.

Kapolsek Majalaya Kompol Kurnia, S. Sos dalam tempat terpisah menjelaskan Almarhum Aiptu Cecep adalah personil yang baik tetap melakukan perintah dengan tanggung jawab, serta dekat sama warga dan beberapa tokoh ditempat.

“Mudah-mudahan Almarhum diterima Iman Islamnya, amal baik diterima Allah SWT, di harap rekanan kerjanya untuk mendoakan serta maafkan kehilafan Almarhum,” pungkas Kapolres Bandung AKBP Indra Hermawan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *